Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo

Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo mengaku menunggu ditegur Mendiknas terkait keinginannya ditiadakan ujian nasional (UN) bagi siswa sekolah. Menurut adik kandung Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo ini, UN harus ditiadakan agar peningkatan mutu pendidikan berjalan dengan baik. Hal itu bukan hanya untuk di Gowa, juga di semua daerah di Sulsel. Dia beralasan UN ataupun ulangan semester hanya mengukur tingkat kemampuan siswa dalam sesaat. Padahal siswa belajar selama enam tahun di tingkat dasar dan tiga tahun di tingkat sekolah menengah. Hal itu lebih menentukan prestasi seorang anak didik.

“Dari apa yang saya kaji soal ujian-ujian ini, sampai sekarang saya belum ditegur Mendiknas,” ungkap Ichsan saat pencanangan sistem pendidikan baru “Tidak Ada Anak yang Tinggal Kelas” di Lapangan Syekh Yusuf Discovery Sungguminasa, kemarin. Selama kepemimpinannya, ingin inovasi dalam pendidikan dilakukan frontal dengan mengubah mindset berpikir masyarakat maupun kalangan pendidik.“Karena itu, saya menilai sebaiknya UN ditiadakan dan ini sudah menjalani proses penggodokan di tingkat MA,” paparnya.

Meski demikian,Ichsan berharap tidak ditegur Mendiknas, sebab perubahan mindset berpikir diyakini mampu mendongkrak peningkatan mutu pendidikan di Tanah Air ke depan. Pemikiran Bupati Gowa tersebut mendapat respons positif kalangan DPRD Gowa, guru, kepala sekolah, tokoh pendidikan, masyarakat, serta muspida yang hadir dalam pencanangan sistem pendidikan baru tersebut. Sistem tersebut merupakan hasil adopsi sistem pendidikan tiga negara, yakni Finlandia, Korea Selatan,dan Jepang.

Dalam pencanangan tersebut dimeriahkan lakon Petta Puang sebagai salah satu sosialisasi masyarakat tentang sistem pendidikan dan penyerahan secara simbolis 395 sepeda motor kepada petugas Satpol Pendidikan. Diserahkan juga piala kepada juara lomba matematika tingkat SD dan ucapan selamat kepada Rezki Novia, siswi SMKN 1 Somba Opu, yang terpilih masuk Paskibraka Nasional tahun ini.

Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Gowa Idris Faisal Kadir seusai acara mengatakan, sistem ini masih akan dikawal dengan sosialisasi berkesinambungan untuk memberikan pemahaman bagi masyarakat, baik kalangan guru maupun orang tua. “Ini tantangan besar bagi guru dan orang tua.Tidak ada anak yang bodoh. Kalau ada anak yang diketahui tinggal kelas, itu karena gurunya yang bodoh,”kata dia.

Jika hal ini terjadi, guru harus menjalani remedial atau memberikan belajar tambahan bagi anak yang tinggal kelas atau anak yang dinilai bodoh itu. “Ingat, remedial ini bisa menjadi jalan bagi sekolah bersangkutan untuk ditambahkan alokasi dana BOS-nya (Biaya Operasional Sekolah) dan memang remedial ini masuk dalam pembiayaan BOS,” tandasnya. Demikian catatan online yang berjudul Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel