Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme

Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Prof Dr Irfan Idris mengingatkan agar pemerintah meningkatkan kewaspadaan pascakematian Osama bin Laden, pimpinan Al-Qaeda. Irfan Idris mengungkapkan, kelompok teroris di Indonesia tidak akan tinggal diam atas kematian otak peristiwa serangan teror terhadap World Trade Centre (WTC) di New York, Amerika Serikat, September 2001 lalu itu. “Yang pasti Al-Qaeda telah mempersiapkan beberapa lapisan generasi berikutnya. Akan melahirkan semangat baru bagi mereka untuk bangkit kembali memperjuangkan doktrin yang diajarkan oleh Osama bin Laden,” kata guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar ini.

Dia mengungkapkan,pascakematian orang yang paling dicari AS selama ini akan berdampak pada semangat aksi terorisme di beberapa belahan dunia. Semanagtnya akan bergeser dari yang sebelumnya mewujudkan negara Islam,kini lebih pada aksi balas dendam atas kematian pimpinan mereka. Aksi balas dendam ini,kata dia,telah dipersiapkan jauh sebelumnya dengan biaya yang mahal, termasuk di Indonesia. Bahkan, sudah ada nama yang dipersiapkan.

“Sekarang bisa saja misi balas dendam. Melahirkan generasi yang mau berkorban dan mengikuti Osama bin Laden,”ujarnya. Tidak berbeda dengan negara lainnya, jaringan kelompok garis keras di Indonesia hadir dengan wajah yang berbeda tapi nafas yang sama dengan yang ada di Afganistan. Dia mencontohkan, Jaringan Islam (JI), JAT (Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), NII (Negara Islam Indonesia), adalah kemasan atau bentuklainyang memilikinapas yang sama dengan Al Qaeda.

“Jaringan yang ada di Indonesia induknya adalah NII,”katanya. Para pengikut ini mendapat doktin dari jaringan Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden yang menyebar hingga ke Indonesia secara terorganisir dan doktrin kuat.“Kalau mereka ditahan tidak merasa dipenjara melainkan menggap dirinya tawanan perang, merampok bank itu dianggap rampasan perang.Mereka menghalalkan semua itu,”katanya.

Dia menjelaskan, hal yang penting saat ini adalah melakukan upaya pencegahan radikalisme yang merupakan cikal bakal terosrisme di Indonesia. Awalnya hanya sekadar partisipan kemudian meruncing menjadi radikal lalu menjadi gerakan teror. “Radikalisme sebagai bahaya laten yang bisa menjadi bom waktu. Semua kelompok dimasuki terutama usia muda. Kampus adalah salah satu sasarannya,“ katanya.

Upaya yang bisa dilakukan adalah membuat pusat kajian deradikalisasi di setiap kampus sebagai upaya melawan arus radikalisme di tengah-tengah masyarakat kampus di perguruan tinggi. “Perlu ditekankan bahwa terorisme adalah musuh kemanusiaan,bukan musuh polisi dan bukan musuh pemerintah. Terorismetermasuk extra ordinary crime, sehingga butuh extraordinarytherapy.Tidakbisa disamakan dengan kejahatan lain. Ini masukan untuk pemerintah. Tapi tetap memanusiakan manusia,”ujarnya.

Sementara itu, pengamat hukum dan politik Marwan Mas mengatakan, Indonesia yang juga terindikasi memiliki hubungan dengan Osama harus mengantisipasi aksi balasan dalam waktu dekat ini. “Bisa saja aksi bom bunuh diri sebagai kekesalan akan tewasnya pimpinan Al-Qaeda intensitasnya meningkat,” ujar dia yang dikonfirmasi SINDO, kemarin. Dia yakin aksi teror bom belakangan ini di Indonesia masih punya hubungan dengan jaringan radikal tersebut.

Namun, dia melihat dalam waktu panjang,dengan tewasnya Osama akan terjadi penurunan aksi teror bom dan bom bunuh diri. “Itu terjadi jika tidak ada yang menggantikan Osama, dan saya rasa tidak akan ada yang bisa mengantikan dia. Kalaupun ada, tidak akan seloyal Osama yang memiliki banyak modal dan pendukung fanatik, ”ujarnya. Marwan menyarankan polisi untuk meningkatkan intensitas pengamanan dalam jangka pendek ini, karena dengan matinya Osama, jaringannya siap-siap untuk melakukan aksi balas dendam. Demikian Catatan Online yang berjudul Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel