mulai menyelidiki dugaan penyelewengan dana

Kejaksaan Negeri (Kejari) Pagaralam mulai menyelidiki dugaan penyelewengan dana alokasi khusus (DAK) terhadap percetakan sawah di Dusun Pengariangan dan Dusun Jangga, Kecamatan Dempo Tengah. Karena diduga proyek DAK untuk Dinas Ketahanan Pangan dan Holtikultura senilai Rp770 juta lebih tersebut terdapat beberapa itemyang tidak dikerjakan.

Menurut Kasi Intelijen M Ikbal mewakili Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Pagaralam Agus Pitulas,dari jumlah dana tersebut,diduga kerugian negara mencapai Rp200 juta yang dilakukan oknum tak bertanggung jawab. Bahkan, masyarakat yang kebunnya rusak mendesak penyelidikan dapat dilakukan secara cepat hingga dapat segera ditetapkan tersangka dalam kasus tersebut. Saat ini pihaknya sedang melakukan penyelidikan terkait adanya dugaan penyelewengan dana dari proyek percetakan sawah baru tersebut.

“Kami telah melakukan pengumpulan data dan barang bukti dengan melakukan penyelidikan bertahap, sehingga kasus yang ada dapat terpecahkan satu persatu secara beruntun. dan kami bisa mengetahui penyebab adanya kerugian negara tersebut,” ujar Ikbal kemarin. Pihak kejaksaan akan meminta bantuan BPKP untuk menghitung audit kerugian negara, sehingga bisa diketahui nominalnya secara jelas. “Saat ini kasus tersebut sedang kita selidiki dan masih mengumpulkan beberapa data yang perlu kita kumpulkan untuk menjadi barang bukti. Kami juga nantinya akan meminta bantuan dari BPKP untuk mengetahui berapa kerugian yang dialami negara,”jelasnya.

Proyek percetakan sawah baru seluas 50,5 hektare yang terbagi di dua dusun tersebut yaitu Dusun Jangga seluas 17,5 hektare dan Dusun Pengaringan seluas 33 hektare. Akibat gagalnya proyek percetakan sawah tersebut, para petani yang dulunya merupakan petani kopi merugi sejak lahannya dijadikan percetakan sawah. Sebab, setelah dijadikan percetakan sawah, sampai saat ini areal tersebut tidak dapat digarap karena tanaman kopi sudah habis dibabat sedangkan air sampai saat ini belum juga mengalir di kawasan tersebut. ”Program percetakan sawah dilakukan pada 2009, ada sekitar 35 hektare kebun kopi yang beralih fungsi menjadi percetakan sawah.Namun, setelah kebun kopi milik warga tersebut diratakan dengan tanah hingga kini belum ada air,” ujar Gandon, 45,warga Dusun Pengariangan.

Senada dikatakan Syarwan, 47, mengatakan, program percetakan sawah bukan saja membuatsekitar160kepalakeluarga (KK) kehilangan pekerjaan. Namun,banyak warga yang terpaksamenjadipekerjahariandi sawahdaerahlain,karenasawah mereka tidak bisa digarap. “Kondisi humus dan kesuburan tanah setelah digusur dengan alat berat banyak hilang karena terlalu dalam pengerukan tanah.Saat ini hanya lapisan tanah kuning atau bebatuan yang ada. Selain tanah memadat dan tanah mengalami kekeringan karena tidak ada air,”ujarnya. Memang kondisi tanah tetap bisa ditanami sayuran, tetapi hasilnya tidak memuaskan dan sering sekali petani yang merugi.

“Kami pernah menanam 90 kgbibitkacangtanahtapisetelah panen hanya mendapat 50 kg dengan kondisi banyak yang kosong. Belum lagi ada yang mengeluarkanmodalRp900.000 untuk membeli bibit tapi setelah ditanam hanya menghasilkan Rp320.000,”tuturnya. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Holtikultura Kota Pagaralam Jumaldi Jani mengatakan, pihaknya tidak tahu mengenaimasalahtersebut. Sebab, proyek tersebut merupakan proyek pada masa kepemimpinan kepala dinas yang lama.

“Saya tidak tahu masalah percetakan sawah tersebut,karena pada waktu itu bukan saya yang menjabat sebagai kepala dinas,jadi saya tidak bisa menjawab,” tuturnya. Demikian catatan online yang berjudul mulai menyelidiki dugaan penyelewengan dana.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel