Santi hanya tersenyum sepintas

Santi hanya tersenyum sepintas, lalu menunduk ketika media menyambanginya di rumah tahanan Makassar, kemarin. Dia seolah ingin menyembunyikan rasa malu. Bagi anak yang berusia 15 tahun tidak mudah menerima nasib sebagai narapidana (napi). Siswa kelas III SMP 5 Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar, ini harus merasakan dinginnya lantai sel tahanan gara-gara mencuri dua botol bensin saat hendak pulang ke rumah. Akibat mendekam di tahanan, niat Santi melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA pun terancam kandas.

Pasalnya,dia tak bisa mengikuti ujian nasional (UN) dan ujian susulan tingkat SMP. Saat ujian berlangsung, Santi harus menjalani masa tahanan di Kepolisian Resor (Polres) Gowa dan menjadi tahanan titipan di rumah tahanan (rutan) Gunung Sari, Makassar. “Saya lama di Polres.Mungkin sekitar satu bulan sebelum dipindahkan ke sini (rutan),” ungkap dia sesaat sebelum meninggalkan tempat yang sudah dihuninya beberapa pekan itu.

Nasib serupa pun dialami Gusti, 16, siswa kelas III, Madrasah Tsanawiyah Mannongkoki. Dia dipidanakan dalam kasus yang sama dengan Santi dan harus menjalani sidang di Pengadilan Negeri Sungguminasa. Santi bersama Gusti dijerat Pasal 363 (1) KUHP tentang Pencurian dan dijatuhi vonis hukuman penjara 1 bulan 21 hari. Sementara Salim, 11, terpidana lainnya, dijatuhi hukuman 1 bulan 17 hari.

Bukan hanya masa depannya yang terancam, sebelum masuk sel,tahanan Santi sudah merasakan penderitaan yang berat.Sebelum diamankan polisi, perempuan berambut cepak tersebut kepalanya dipukuli masyarakat. “Saya sudah tidak mau mencuri lagi. Sudah dipukuli, lalu masuk penjara.Saya sudah kapok. Sudah tidak mau lagi,” ujar dia yang diamini Gusti dan Salim.

Belum lagi perasaan takut ketika menjalani persidangan. Ketiga bocah itu mengungkapkan, saat bertemu hakim dan jaksa sebagai pesakitan di ruang sidang, merupakan pengalaman menyeramkan. “Kalau sudah sampai di pengadilan selalu sakit perutku. Mau muntah.Tidak enak sekali rasanya,” ucap Gusti dengan mata berkaca-kaca. Setelah dijatuhi hukuman, mereka tetap berharap bisa kembali sekolah.

“Saya mau menjadi polisi. Mauka kasi liat sama semuanya, biar sudahka dipenjara bisa tonja jadi polisi,”kata Santi. Sementara itu, pihak keluarga yang datang menjemput mengakupasrah, Sant idan Gusti harus mengulang lagi. Hanya mereka tetap akan mengajukan permohonan ke pihak sekolah. “Nanti kita lihat apa ada kebijakan untuk ujian kembali,” tandas Risda,kakak Santi. Sekretaris Dinas pendidikan dan Olahraga Takalar Muhammad Ilham Yamin mengaku belum mengetahui adanya kasus tersebut.

Hanya, dia menyatakan, kemungkinan dilaksanakannya ujian masih terbuka sepanjang hak-haknya sebagai siswa yang sudah dijatuhi pidana tidak dicabut berdasar undang-undang perlindungan anak dan undangundang Sisdiknas. “Ini akan kami kaji dan yakin ada jalan keluar terbaik bagi anak-anak ini. Minimal kalau sudah tertutup kemungkinan ujian susulan,bisa ikut ujian paket,”tandasnya. Demikian Catatan Online yang berjudul Santi hanya tersenyum sepintas.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel