Pusat riset teknologi Telkomsel

Pusat riset teknologi Telkomsel saat ini fokus dalam pengembangan teknologi ramah lingkungan. Salah satunya yakni pemanfaatan Base Transceiver Station (BTS) tenaga air yang diklaim pertama di Asia.

Teknologi ini mengganti listrik dengan pemicu air yang memanfaatkan genset. Hasil listrik dari pemicu genset tersebut kemudian dapat memasok listrik BTS.

Untuk lebih menghemat energi, teknologi ini dikolaborasikan dengan Exhaust Fan, rangkaian penghemat energi pendingin ruangan BTS. Ini menjadi solusi problem BTS selama ini yakni energi yang dikeluarkan sangat banyak karena sistem pendingin ruangan di pengendali BTS cenderung boros.

"Ruang pendingin biasanya memakai AC dengan energi 3.000 watt, selama ini cenderung boros dan cepat panas, " ujar pengembang teknologi ini, Sigit Dwi Handoko, di sela Peluncuran Pusat Riset Teknologi Telkomsel di Bandung, Senin.

Teknologi yang dikembangkannya menggunakan sistem DC yang hanya butuh energi 250 watt. Prinsip kerja teknologi ini yakni menyedot panas dari dalam dan membuang keluar ruangan sehingga sirkulasi lebih cepat dan suhu ruangan menjadi lebih dingin.

Dalam teknologi ini terdapat fitur self cleaning filter, yang menyaring debu di pendingin ruangan yang rentan dengan debu, sehingga sistem pendingin tidak cepat rusak. "Dengan ini otomatis membersihkan tanpa perlu tenaga orang," ujarnya.

Teknologi BTS air ini mampu memasok energi sampai 6.000 watt. Sementara kebutuhan satu BTS menurutnya sekitar 5000 watt. Sistem ini mampu menekan pembiayaan sampai 70 persen. Teknologi ini telah diaplikasikan untuk memasok listrik ke satu BTS di Gorontalo yang kekurangan pasokan listrik.

Teknologi ramah lain yang dikembangkan oleh Telkomsel yakni 2.200 BTS yang ramah lingkungan yang terdiri dari solar cell, mikrohidro, fuel cell, dan hotel BTS.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel