Rexy Mainaky

Setelah meninggalkan Indonesia di tahun 1994, saya memang tidak terlalu dekat mengikuti perkembangan bulutangkis Indonesia. Namun saya termasuk dari beberapa orang yang ditanyai oleh Rexy Mainaky ketika dia mendapat tawaran untuk melatih pelatih di Inggris di tahun 2001.

Kami berbicara ketika itu mengenai gaji yang ditawarkan oleh Asosiasi Bulutangkis Inggris, dan biaya hidup, pajak, dan hal-hal lainnya, bukan masalah teknis bulutangkis.

Rexy kemudian bertahan selama lima tahun di sana, dan berhasil membawa pasangan ganda campuran Nathan Robertson/Gail Emms merebut gelar juara All England dan merebut medali perak Olimpiade Athena, kalah dari pasangan China Zhang Jun/Gao Ling. Ini merupakan prestasi tertinggi yang pernah dicapai oleh pebulutangkis asal Inggris.

Saya juga ditanyai ketika kemudian Rexy memutuskan untuk melatih di Malaysia. Sebagai orang media, Rexy bertanya mengenai bagaimana kira-kira reaksi media dan masyarakat Indonesia bila dia memutuskan menjadi pelatih di Kuala Lumpur. Kita semua tahu Malaysia adalah "musuh bebuyutan" Indonesia di cabang bulutangkis, kadang lebih dari China.

Ketika itu, perpindahan pelatih ke manca negara belum lagi jadi model. Kami berdiskusi dan sepakat bahwa dasar kepindahan adalah profesional. Sebagai pelatih profesional, Rexy tidak lagi membawa masalah emosi, ataupun hal lain dalam melatih.

Di Malaysia sejak tahun 2005-2012, Rexy dipandang sangat berjasa mengangkat prestasi ganda Lee Boon Heong/Koo Kean Kiat menjadi juara All England, dan juara Asian Games. Lagi-lagi inilah prestasi terbaik yang dicapai oleh ganda putra Malaysia dalam 10 tahun terakhir.

Dengan modal seperti inilah Rexy Mainaky sekarang kembali ke Indonesia untuk menjadi Ketua Bidang Pembinaan PBSI, perjalanan hampir 11 tahun di luar negeri, di dua negara yang memiliki tradisi kental bulutangkis.

Di Inggris, negara asal bulutangkis, prestasi mereka tidak lagi menjulang, namun mereka tidak pernah lelah mencoba cara-cara baru, dan di Malaysia, negara yang memiliki semangat untuk bangkit walau memiliki sumber daya terbatas.

Rexy adalah di antara sedikit mantan pemain Indonesia yang pergi ke luar negeri setelah karir mereka selesai baik untuk melatih ataupun kegiatan lain. Sebut saja nama-nama seperti Ardy B Wiranata, Gunawan, Halim Heryanto, Tony Gunawan, Hendrawan, Atik Djauhari, Yuliani Sentosa, Etty Tantri.

Rexy Mainaky adalah yang paling terkenal dan paling berhasil. Dengan reputasi seperti itu, Rexy memang pantas untuk menjadi Ketua Bidang Pembinaan. Namun tugas yang dihadapinya tidaklah ringan, kalau tidak mau dikatakan sangat berat.

Prestasi pemain Indonesia dalam keadaan terus menurun, sementara negara nomor satu China semakin kuat. Namun, memang sudah waktunya PBSI ditangani oleh generasi selanjutnya. Christian Hadinata, yang sekarang masih berada di pelatnas, sudah menjadi bagian dari kehidupan bulutangkis Indonesia selama 40tahunan terakhir, sudah semakin "senior".

Kedatangan Rexy Mainaky kembali ke Indonesia bisa disebut dalam waktu yang tepat. Rexy masih bisa belajar dari Christian (keduanya memiliki pertalian erat.

Putra kedua Rexy diberi nama Christian sebagai penghormatan kepada mantan pelatihnya tersebut). Sekarang dibantu juga oleh mantan pasangannya Ricky Subagja dan mantan pemain satu angkatan, Susi Susanti, Rexy Mainaky bertugas untuk mencari "solusi" baru guna mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia.

Keadaan sudah berbeda di masa Rexy menjadi pemain dengan sekarang. Namun di Wikipedia, ada satu kalimat yang menarik mengenai Rexy.

Di situ ditulis "Rexy's boyish charm and ethic of working hard whilst having as much fun as possible sparks great results wherever he goes." Terjemahannya kira-kira " Semangat awet muda Rexy dan kebiasaannya untuk kerja keras ditambah sikapnya yang penuh humor selalu membawa hasil bagus kemanapun dia pergi."

Menurut saya, kalau Rexy tidak bisa mengangkat perbulutangkisan Indonesia, maka tidak ada orang lain lagi yang bisa.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel