Hanya Jamaah Haji Wanita Yang Boleh Mengkonsumsinya

Obat hormon pengendali siklus menstruasi merupakan salah satu obat yang biasa dikonsumsi oleh jamaah haji wanita. Sayangnya, tak semua orang boleh mengonsumsi obat jenis ini.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan, M Ilhamy Setyahadi menyampaikan, orang yang punya riwayat, seperti asma dan kelainan jantung harus menghindari obat hormon siklus pengendali siklus menstruasi.

"Orang yang punya kelainan ginjal dan hati serta penyakit pemberat (kanker) tidak boleh diberikan obat hormon juga," kata Ilham saat Live Streaming Radio Kesehatan, Kementerian Kesehatan.

Hormon yang digunakan mengendalikan siklus menstruasi adalah progesteron. Hormon ini yang paling berperan dalam siklus menstruasi. Wanita bisa menunda atau memajukan siklus menstruasi pada waktu-waktu tertentu, terutama beribadah haji dan bepergian jauh.

Ilham mencontohkan, pasien yang punya riwayat kanker atau sedang menjalankan perawatan kanker memang harus menghindari obat hormon pengendali siklus menstruasi. Ini disebabkan obat hormon akan memperparah keganasan tumor.

"Setelah dilakukan pengujian, obat hormon bisa memengaruhi keganasan tumor. Keganasan makin bertambah," lanjut dokter yang berpraktik di RS Anak dan Bunda Harapan Kita, Jakarta itu.

Wanita punya riwayat kanker pun tidak ada pilihan obat pengendali hormon lain. Mereka tidak bisa mengendalikan siklus menstruasi dengan obat hormon bila ingin bepergian.

"Ya, regulasinya diobati dulu sampai dinilai keganasannya sembuh total. Atau kami biasanya melakukan pemeriksaan sepenuhnya. Kalau pasien sedang menjalani terapi kanker, itu diteliti dulu, apakah terapi yang dilakukan membuat efek obat hormon aman dikonsumsi," Ilham menjelaskan.

Obat hormon ini memiliki bentuk berupa pil. Ketika mengonsumsi obat, pasien harus terus berada dalam pantauan dokter untuk mendapat hasil yang diinginkan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel